Oleh: Evelyn Tan Hwee Yong
"Lalu aku melihat, sungguh angin badai bertiup dari utara, dan membawa segumpal awan yang besar dengan api yang berkilat-kilat dan awan itu dikelilingi oleh sinar; di dalam, di tengah-tengah api itu kelihatan seperti suasa mengkilat," (Yehezkiel 1:4)
Lembar lepas lembar di jendela dunia anda penuh kelaliman dan ketidakadilan? Sinaran matahari belum muncul di celah-celah awan dan anda merangkak di terowong? Yehezkiel dapat menyelami perasaan anda kerana kemelut politik bangsanya membawa kegelapan kepada jendela hidupnya juga.
Di sungai Kebar, Yehezkiel sedang mengenangi nasibnya dan bangsanya. "Pada tahun ketiga puluh, dalam bulan yang keempat, pada tanggal lima bulan itu, ketika aku bersama-sama para buangan berada di tepi sungai Kebar, terbukalah langit dan aku melihat penglihatan-penglihatan tentang Allah." (Yehezkiel 1:1) Perkataan ketiga puluh berhubungan erat dengan "aku" dalam ayat ini. Kemungkinan besar tanggal ini tertuju kepada umur nabi Yehezkiel. Dia seharusnya menerima jabatan sebagai imam setelah menjalani latihan… (Bilangan 4:3,4) Apakah yang terjadi kepada dirinya? Dia sedang menangis di sungai Kebar.
Tunggu! Panggilan syurgawi datang sewaktu jendela politik bangsanya gelap dan selembar kekecewaan mewarnai kehidupannya. Panggilan Yehezkiel bukan sekilas sahaja tetapi sungguh terperinci. Penglihatan kemuliaan-Nya juga membuka minda dan rohaninya. Dia tidak lagi berfikiran sempit bahawa Tuhan hanya hadir di Bait Tuhan dan kuasa Tuhan hanya terbatas di Yerusalem. Tuhan hadir di Babel!
Kuasa yang meliputi Yehezkiel bukan datang daripada kemampuan latihannya sebagai seorang imam tetapi tangan Tuhan yang menggerakkan Yehezkiel ke suatu tugas yang baru. "Oleh sebab itu, Yehezkiel mempunyai keyakinan yang teguh bahawa penglihatan yang diberikan kepadanya tidak datang dari kuasa rohani sendiri tetapi Tuhan yang memperkenalkan dimensi ilahi yang melampaui semua yang dapat dibayangkan oleh manusia." (Walter Eichrodt)
Sentuhan Tuhan mengubah Yehezkiel seperti perubahan Yakub sewaktu dia bertemu dengan Tuhan di Peniel, Musa ketika dia naik ke Gunung Sinai atau Yesaya yang menangis, "Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam." (Yesaya 6:5)
Kemuliaan Tuhan yang dilihat oleh Yehezkiel hadir dalam angin badai, segumpal awan dan api. Angin badai itu membawa segumpal awan besar dan di tengah-tengahnya kelihatan api yang berkilat-kilat seperti suasa, logam yang bercampuran emas dan perak. Api yang berkilat-lihat itu tangkap menangkap, kejar mengejar, panah memanah, sabung menyabung dengan tidak terhenti-henti.
Kemuliaan Tuhan yang terang, penyertaan-Nya dan kehadiran-Nya di tengah-tengah bangsanya di tanah pembuangan yang mengalami jendela politik gelap telah memberi selembar pengharapan yang cerah.
Biarlah kemuliaan yang panah-memanah, sabung menyabung, kejar mengejar mengiringi pelayanan anda biar apapun yang mewarni jendela dunia kita!